Selasa, 14 Juni 2011

Osama oh...... Osama

Osama oh...... Osama

Yusuf Arifin Yusuf Arifin | 2011-05-08, 9:01
Sudah hampir seminggu Osama bin Laden dinyatakan mati oleh Amerika Serikat lewat sebuah operasi militer. Sementara banyak yang meminta bukti foto jasad ''tokoh'' satu ini, Presiden Barack Obama sudah memastikan bahwa mereka tidak akan melakukannya. Salah satu alasannya adalah Amerika tidak menginginkan foto yang dikatakan ''mengerikan'', dengan peluru yang konon menembus mata tersebut malah akan membangkitkan simpati yang tidak sehat.
Lagipula belakangan telah muncul pembenaran akan kematiannya dari kalangan Al Qaida sendiri. Ada atau tidak ada foto tersebut menjadi tidak relevan sebagai pembuktian.

Yang lebih relevan untuk dibahas bagi saya adalah reaksi yang tidak terlalu gegap gempita, untuk tidak mengatakan lemah terhadap kematian Osama ini di dunia Arab ataupun kalangan Muslim. Reaksi tentu saja ada, seperti termuat dalam berita-berita belakangan, seperti di Inggris sendiri dengan munculnya demonstrasi yang memprotes pembunuhan itu. Tetapi tidak sebanding dengan ''nama besar'' petinggi Al Qaida ini.
Osama dan dunia Islam
Dugaan saya adalah cita-cita perlawanan global terhadap Amerika lewat jalan kekerasan seperti yang didengungkan oleh Al Qaida sudah kehilangan relevansinya bagi banyak warga Muslim.
Warga Muslim di Arab misalnya, kita sudah tahu bahwa Arab belum tentu berarti Islam begitupun sebaliknya, lebih tertarik untuk mendongkel tiran yang mengangkangi negara mereka, terlepas yang bersangkut paut dengan Amerika atau tidak. Revolusi yang terjadi di Mesir, Tunisia, Libia dan Bahrain jelas mencerminkan hal ini. Al Qaida ataupun garis perjuangannya jelas sama sekali tidak masuk dalam perhitungan mereka ketika bergerak.
Gerundelan terdengarpun tidak di tanah tumpah darah Osama di Arab Saudi. Di Palestina yang menjadi salah satu alasan kebencian Osama terhadap Amerika karena pendudukan wilayah mereka oleh Israel yang didukung Amerika tidak terdengar retorika yang berapi-api.

Tidak terdengar pula reaksi berarti dari kalangan non pemerintah Afghanistan yang konon menjadi salah satu pendukung Al Qaida. Di Pakistan sendiri yang menjadi tempat persembunyian Osama, tidak terlalu muncul dukungan. Di Indonesia dengan penduduk Islam terbesar di dunia, lebih sedikit lagi suara yang cukup berarti untuk ditanggapi.
Dari sini saja kita bisa bertanya, siapa pendukung Osama sesungguhnya? Benarkah ummat Islam terwakili dan Osama ini mewakili ummat Islam?
Kesemena-menaan Amerika
Pertanyaan ini tidak kemudian menafikkan standard ganda yang diterapkan Amerika dalam menghadapi persoalan-persoalan dunia. Pertanyaan itu juga tidak kemudian menafikkan bahwa ''kritik'' Al Qaida terhadap kesemena-menaan Amerika di panggung politik dunia kemudian tidak ada benarnya.
Bagaimana operasi ''eksekusi'' yang dilakukan Amerika saja sudah menimbulkan pertanyaan akan kesemena-menaan Amerika. Kalau benar pengakuan Amerika dan Pakistan bahwa Pakistan tidak tahu menahu soal operasi militer tersebut, bukankah ini sebuah pelanggaran kedaulatan habis-habisan? Melanggar hukum internasional? Apakah Amerika peduli dengan semua ini?

Kalau Presiden Obama menyebut keadilan telah terpenuhi dengan pembunuhan terhadap Osama, dengan merujuk tindak teror yang didalangi orang satu ini layak mendapat balasan setimpal seperti yang terjadi, lagi-lagi bukankah ini kesemena-menaan Amerika dalam menterjemahkan keadilan? Apakah sebenarnya definisi keadilan itu? Keadilan untuk siapa? Dan benarkah keadilan koboi macam ini layak disebut keadilan? Lalu apa beda Osama dan Amerika?
Ini kita belum mengkerangkai tindakan Amerika dalam konteks teror negara adikuasa. Pertanyaan akan lebih banyak lagi muncul.
Terus terang ''eksekusi'' terhadap Osama bin Laden bagi saya menimbulkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban.(BBC Indonesia) 

Senin, 13 Juni 2011

Pesan-pesan Dahsyat

Pesan-pesan Dahsyat

By 
Font size: Decrease font Enlarge font
TDW Show
Emosi negatif kadang sering datang tidak pada tempatnya. Jika dibiarkan, hal itu bisa mengakibatkan semangat dan kinerja menurun. Emosi negative antara lain kecewa, merasa terhina dan sebagainya. Jika emosi negative itu muncul ada 2 jurus yang bisa Anda lakukan, yaitu menurunkan harapan, atau  meningkatkan kemampuan. Pilihlah jurus meningkatkan kemampuan. Jika Anda merasa terhina, jadikan itu sebagai dendam positif, cambuk untuk membuat Anda lebih baik dari yang menghina.

Untuk menambah pengetahuan dan wawasan, membaca saja tidak cukup. Ada langkah lanjutan yang harus dilakukan:
- Sebelum membaca lakukan survey terhadap buku yang akan dibaca: apa isi buku tersebut, apa manfaat buku tersebut bagi Anda, apa pengaruh buku itu ke depan bagi Anda. Tidak semua buku harus dibaca sampai selesai.
- Remind (mengingat kembali). Cara yang paling mudah adalah dengan menceritakan isi buku kepada orang lain.
- Read Again (baca kembali)
- Buat Daftar Action. Satu buku minimal satu action yang akan Anda lakukan.

Bagaimana membangun mindset agar bisa sukses? Yang perlu diketahui adalah, kita mendisain kehidupan kita sendiri, dan memindset diri kita sendiri. Contoh, kalau Anda merasa sebagai orang yang boros (dalam mindset Anda, Anda merasa sebagai orang yang boros), maka hal itu akan benar-benar terjadi. Pilihlah mindset yang baik karena itu akan menjadi identitas Anda dan disain kehidupan Anda. Contoh mindset yang baik: “Saya adalah orang yang baik, saya akan sukses”. Setelah membuat mindset, iramakan dan lakukan secara terus menerus.

Menunda merupakan salah satu hambatan menuju kesuksesan. Banyak orang yang tidak ahli menunda, karena mereka menunda hal-hal yang penting. Ada beberapa hal yang menyebabkan penundaan:
- Merasa goal/tujuan tidak menantang. Bayangkan nikmat yang akan Anda alami jika Anda tidak menunda. Dan bayangkan sengsara yang akan Anda alami jika Anda menunda. Buatlah sense of urgency.
- Merasa tidak mampu. Untuk mengatasinya, tingkatkan kemampuan Anda. 
- Karena kebiasaan. Buat hukuman bagi diri Anda sendiri atas penundaan yang Anda lakukan. 
Banyak orang yang merasa sudah melakukan yang terbaik, padahal dia belum belajar dari yang terbaik. Ini yang keliru. Learn from the best!  Bagaimana Anda sudah melakukan yang terbaik kalau belum belajar dari yang terbaik? Learn from the best, do the best, work with the best, pray for the best, then miracle happen.

Pemenang buku dalam program TDW Show edisi Senin, 13 Juni 2010:
Buku The Way to Dahsyat Life
1. Nina  (Balikpapan) – 082158712659
2. Linda (Surabaya) – 081515167802
3. Junaidi (Jakarta) – 085814224889
4. Tarno (Batu Ceper) – 081386421732
5. Iswan (Jakarta) – 08567549141

Buku We Are Trader Not Gambler
6. Anto (Jakarta) – 085711940691
7. Kadir (Cirebon) – 081222112606
8. Budi (Jakarta) - 082113828219
9. Sri (Bekasi) – 082113828219
10.Mirna (Jakarta) – 083899464263

Buku Instant Cash Flow – Action Coach
11. Alisha (Pekanbaru) – 087893181978
12. No Name – 085255753409
13. No Name - 085299966066
14. Riandy (Medan)  - 0819883568
15. Winoto (Jakarta) – 0816976564

Buku Financial Revolution in Action
16. Kris (Semarang) - 0818247985
17. No Name - 081365701269
18. Prasetyo (Jakarta) - 0818824801
19. No Name – 081268520820
20. Setiyo - 081210858083 (Tung Dessem Waaringin)

Rabu, 08 Juni 2011

Peak Performance

Peak Performance: Peak Performance

By  
Font size: Decrease font Enlarge font
Kita harus selalu berada dalam kondisi puncak atau kondisi prima (peak performance). Peak performance merupakan sikap optimal, semangat  dan  energy maksimal dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Bersemangat bisa diciptakan, karena dia bukanlah suatu bawaan lahir.

Untuk mencapai peak performance, kita harus memulainya dengan menciptakan state (kondisi atau mood) yang bagus, karena state akan mempengaruhi prilaku.
Contoh: Kalau kita bangun pagi dalam keadaan baik, maka mood kita akan baik juga, setelah itu prilaku kita juga akan baik pula. Sebaliknya, kalau kita bangun terlambat, maka mood akan tidak baik, hal ini akan berimbas pada tidak baiknya prilaku.

Untuk menciptakan state yang bagus yang perlu dilakukan adalah:
-Menjaga postur tubuh
-Berpikir positif/focus pada yang positif
-Berkata/memilih kata-kata yang positif

Mind dan body (pikiran dan badan) adalah satu system. Kalau badan sakit, maka pikiran akan tergganggu. Hal itu selajutnya akan mempengaruhi state dan prilaku.

Di bumi berlaku hukum tarik menarik. Kalau kita mengeluarkan energi yang positif, maka kita juga akan menarik energy yang positif.   Jika kita dikelilingi oleh energy negative, seperti orang-orang dan lingkungan yang kurang “mendukung”, maka selama energy postif dalam diri kita lebih kuat, maka kit akan mampu menjaga state dalam keadaan positif. Orang yang bersyukur adalah orang yang penuh energy positif.(Smart FM)

The Untold Stories Soeharto

The Untold Stories Soeharto

By 
Font size: Decrease font Enlarge font
Sebaiknya tak perlu cepat berburuk sangka dengan kehadiran buku Pak Harto, The Untold Stories, yang berkisah tentang sisi terang Soeharto. Apalagi mengaitkan kelahiran buku itu dengan kebangkitan Soehartoisme dan rezim orde barunya. Karena  sejatinya, tak perlu ada yang dicemaskan dari Soeharto ini. Boleh saja simpatisannya mengungkap sisi hidup Soeharto yang layak diteladani.  Tetapi zaman telah berubah.

Kontroversi tentang Soeharto ini, memang akan lebih bijaksana jika tidak diperpanjang. Karena perdebatan tentangnya, hanya menghasilkan remah-remah, yang tidak produktif bagi gerak bangsa ini ke depan. Jujur kita akui saja, kontroversi ini lahir karena kita telah salah memperlakukan Soeharto. Dengan tidak membawa Soeharto ke pengadilan, membuat segala persoalan tentangnya menggantung. Korupsi yang dituduhkan kepadanya tidak bisa dibuktikan benar atau salah. Begitu juga anggapan dirinya sebagai penjahat hak-hak asasi manusia, karena selama masa pemerintahannya dia dituduh menghilangkan ribuan nyawa lawan-lawan politiknya, tak pernah bisa terbukti secara hukum.

Sayang memang, kesempatan untuk menjernihkan persoalan Soeharto ini dilewatkan begitu saja. Dan itu adalah salah satu kesalahan besar kita sebagai bangsa. Akibat dosa itu, kita selamanya tak pernah bisa mampu mengambil sikap tegas, termasuk ketika akan menyematkan gelar pahlawan kepada pemimpin yang pernah berkuasa di negeri ini selama 32 tahun.
Jadi yakinlah bahwa kelahiran buku Soeharto ini takkan mampu membuai publik. Karena setiap ingatan tentang kebaikan sosok penguasa di rezim masa lalu itu dihadirkan, ingatan publik pun pasti akan melayang pula pada  kasus-kasus korupsi yang pernah disangkakan padanya. Ingat pula bahwa masih ada Tap MPR 11/1998 tentang penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dari KKN yang mensyaratkan pengusutan mantan Presiden Soeharto dan kroninya, yang belum dicabut.  Di mata internasional pun , image sebagai kepala negara yang korup masih melekat pada nama Soeharto.

Jadi biarkan saja cerita baik dan buruk tentang Soeharto ini berdampingan, Tak perlu dipertentangkan. Karena publik telah sangat cerdas untuk membaca setiap gerak perubahan, yang menjadikan mereka tidak gampang terbuai, apalagi hanya oleh sebuah buku. Jadi anggap saja, buku itu sebagai pelengkap cerita tentang sejarah Soeharto.(Smart FM)

Rabun Hati

Rabun Hati

By  
Font size: Decrease font Enlarge font
Rabun HatiRabun Hati
Penyakit yang paling berbahaya adalah penyakit rabun hati.  Karena bahayanya bukan cuma di dunia tapi juga di akhirat. Kita memang harus waspada dengan  ancaman diabetes dan gagal ginjal. tapi banyak kerabat yang kehilangan  kaki dari penyakt ini malah menemukan  hidupnya kembali. Ia memang kehilangan kaki, tapi ia menemukan hati. Ada banyak pasien cuci darah yang menemukan ilmu pasrah, ilmu yang  tidak mudah didapat karena ditebus dengan ginjal.

Ada begitu banyak kerusakan yang malah membangun hati.  Karena itu,  penyakit tubuh mestinya tidak boleh begitu menakutkan dibandingkan  penyakit hati.  Hati tidak usah sakit parah, cukup rabun saja, dampaknya sudah sangat besar.  Ia akan memutilasi kebahagiaan. Manajemen keluarga yang saederhana akan menjadi rumit. Soal keuangan saja, ada bermacam-macam istilah, ada uang perempuan uang laki-laki, uang terang uang gelap, dan uang siluman. APakah keluarga butuh semua itu? Tidak. Kebutuhan keluarga itu sederhana. Menjadi tidak sederhana ketika nilai-nilai keluarga tidak lagi menjadi prioritas dan orientasi utama.

Begitu pula dengan pendidikan. Induk persoalan pendidikan  sederhana, yaitu mengajar siswa.  Tapi ketika dia dijejali dengan bermacam-macam kepentingan, maka menjadi berjejal muatan, dan tujuan inti pendidikan itu nyelip entah dimana. Begitu juga dengan pembangunan, tugasnya simple, yakni memudahkan, melancarkan dan memartabatkan kehidupan masyarakat. Tapi  ketka didalamnya banyak benalu penyimpangan, maka banyak   pembangunan yang malah mengakibatkan kerusakan: gedung baru rusak, gedung lama dibiarkan tidak terpakai, terjadi kekeliruan perizinan, pelanggaran dibiarkan dan sebagainya.

Demikian pula dengan tata kelola negara. Mengelola rakyat adalah hal  sederhana, hanya butuh 2 kata:  ketegasan hukum. Tidak ada yang tidak takut hukum. Banyaknya pelanggaran bukan karena kita banyak melakukan pelanggaran, tapi karena banyak hukum yang menantang untuk dilanggar. Di dunia ini tidak ada urusan yang ruwet. Yang ada adalah persoalan yang dibiarkan ditumpuk, diabaikan, lalu beranak pinak, sehingga tidak bisa dicegah kecuali berujung pada kerusakan. Kerusakan itu hanya butuh sebab sedehana, yaitu rabun hati. Penyakit yang membuat indra peraba, perasa, dan pencium lenyap. Yang tertinggal cuma indra kepentingan diri sendiri.(Mas Prie GS)

Bodoh, Pintar dan Bijak

Home | Refleksi Prie GS | Bodoh, Pintar dan Bijak

Bodoh, Pintar dan Bijak

By 
Font size: Decrease font Enlarge font
Adalah tugas kebodohan untuk belajar agar menjadi pintar.  Adalah tugas kepintaran agar belajar menjadi bijak. Jika pintar saja, tidak ada jaminan untuk bijak, apalagi jika bodoh. Tapi anehnya, menjadi pintar tanpa bijak akan menghasilkan bahaya yang lebih besar ketimbang bodoh. Bodoh meski bahaya tapi dayanya terbatas. Hutan akan baik-baik saja walau dicuri setiap hari bahkan oleh gabungan pencuri sekalipun, sepanjang mencuri itu hanya dilakukan oleh penduduk sederhana yang butuh untuk membuat rumah dan perabot. Tapi  cukup dengan  seorang  pencuri pintar saja, maka seluruh hutan bisa lenyap  dikuras ke luar negeri.

Melihat gelagatnya, pintar jenis inilah yang sekarang berkembang. Banyak kebodohan beranjak jadi pintar, tapi pintar tetap ditempatnya, kecuali untuk jadi alat kepentingan saja. Banyak  kepintaran melihat peluang. Cepat menangkap prospek udang import misalnya, maka untuk salanjutnya akan membuahkan tambak-tambak terbengkalai dan ekologi pantai yang rusak. Pintar menciptakan  proyek dan mengkreasi anggaran, tapi pembangunan  seperti  tidak menuju kemakmran. Bukan daya gunanya tapi hanya pembangunan fisiknya.

Rumah ibadah dibaguskan dimana-mana. Tapi apa jadinya jika yang bagus cuma tembok, lantai dan atap, tapi tidak pada tata nilainya. Apa jadinya kalau  pembangunan salah orientasi?  Cuma berujung ironi. Akan banyak ilmu tak bermanfaat,  banyak massa tidak menghasilkan apa-apa, bayak orang beribadah tapi sedikit yang diberi pentunjuk.

Kepintaran sungguh alat menuju bijak, bukan kepentingan.  Kemerosotan yang pernah kita alami adalah hasil penurunan kepiƱtaran dan kebijaksanaan. Jika ransum atlet dikorupsi, maka sulit untuk meminta atlet berperstasi. Bukan karena otot mereka lemah, tapi karena hatinya lemah oleh luka dan kecewa. Sepakbola bukan cuma urusan menendang bola, tapi juga organisasi. Organisasi di lapangan saja rumit, sehingga perlu mendatangkan pelatih dari luar negeri. Organisasi di luar lebih rumit lagi, apalagi untuk diisi oleh sekedar kepintaran dan jadi alat kepentingan. Seluruh sepakbola besar di dunia lahir ternyata lewat proses yang besar. Jadi kita tidak sedang kalah dalam soal bakat, tapi dalam tirakat. Dan tirakat itu sulit dilakukan oleh pihak yang hanya berisi kepentingan.     

Tukaram Si Baik Hati

Tukaram Si Baik Hati

By 
Font size: Decrease font Enlarge font
Di India ada seorang suci (wali) bernama Tukaram. Ia diperlakukan sebagai orang suci yang dipuja. Ia memiliki  kuil dan umatnya sangat banyak. Tukaram adlaah orang yang baik hati.  Dikisahkan, dia selalu menolong siapapun yang berkebutuhan. Karena sering menolong,  usaha dan bisnisnya bangkrut. Tukaram dan istrinya sering bertengkar. Istrinya mengatakan suaminya adalah lelaki bodoh. Tukaram memang memiliki kebaikan tak terbatas. Ia menolong siapapun yang kesusahan. Tukaram memang tidak menjadi kaya karena kebaikannya itu. Tapi  setelah kematiannya, ia dperlakukan sebagai orang suci, sebagai personifikasi dewa kebaikan.

Kisah ini mengajarkan kita tentang perlunya kita merancang kebaikan dalam pekerjaan kita, untuk mendatangkan kebaikan sebesar-besarnya bagi klien, pelanggan, atau konstituen kita,  apapun pekerjaan kita.  Perkerjaan apapun di dunia didisain untuk memproduksi kebaikan, apakah itu dokter, politisi, tukang bangunan dan sebagainya.  Adalah panggilan bagi setiap pekerjaan untuk memikirkan sebesar-besarnyanya kebaikan,  sebagaimana Tukaram. Bagaimana agar  kebaikan menjadi suistanable dan tumbuh. Banyak jasa dan produk  yang umurnya ratusan tahun, masih kita nikmati sampai hari ini karena mendatangkan kebaikan/manfaat.

Ciptakanlah kebaikan sebesar-besarnya melalui pekerjaan  dan produk Anda. Dan  dalam  proses itu Anda menjadi personifikasi kebaikan. Apakah Anda menjadi orang suci karena itu? Tidak. Tapi  paling tidak Anda akan dikenang oleh masyarakat sebagai pekerja yang mengikhtiarkan dan mewujudkan  kebaikan.