Senin, 23 Januari 2012

Bahagia di Tempat Kerja

Bahagia di Tempat Kerja

By  
Font size: Decrease font Enlarge font
Smart Happiness
Siksaan terbesar di dunia adalah mengalami waktu yang berjalan sangat lambat. Alangkah ruginya kita, jika mengalami hal itu di tempat kerja, karena waktu produktif kita, kita habiskan di tempat kerja. So, belajarlah untuk bahagia di tempat kerja!
Setiap orang ingin bahagia. Kapapun dan dimanapun kita memang seharusnya merasa bahagia, termasuk di tempat kerja, karena waktu-waktu produktif kita dihabiskan di tempat kerja. Sayangnya jika bicara tentang bahagia yang sering terbayang adalah liburan, jalan-jalan, atau senang-senang lainnya. Sementara bahagia di tempat kerja mungkin belum terbayang.
Bahagia di tempat kerja disebut “flow”, yaitu sebuah kondisi dimana waktu seakan berhenti, kita betul-betul masuk dengan pekerjaan kita, bahkan terkadang waktu terasa begitu cepat. Itu karena kita menikmati pekerjaan kita. Itulah kebahagiaan di tempat kerja.

Agar mendapatkan “flow” di tempat kerja:
1. Harus tertarik dengan pekerjaan. Tertarik merupakan cikal bakal cinta.
2. Tantangan pekerjaan harus besar. Tanpa tantangan, tidak ada “flow”.
3. Keahlian yang tinggi, untuk mengimbangi tantangan.
 Siksaan terbesar di dunia adalah mengalami waktu yang berjalan sangat lambat. Betapa ruginya kita jika mengalami hal itu di tempat kerja. So, mulailah cintai pekerjaan kita, lakukan pekerjaan kita dengan sepenuh jiwa hingga larut didalamnya. Nikmatilah saat-saat kita berada di tempat kerja. Maka itu akan membuat kita menjadi bahagia. (am)

Selasa, 17 Januari 2012

Yang Terkatakan Tanpa Harus Dikatakan

Yang Terkatakan Tanpa Harus Dikatakan

By  
Font size: Decrease font Enlarge font
Refleksi Prie GS
Ada soal-soal yang tidak perlu dikatakan tapi akan tetap mengatakan dirinya sendiri, karena segala sesuatu terikat oleh hukum. Hukum akan bekerja tanpa meminta persetujuan kita, apakah kita setuju atau tidak, suka atau tidak. Hukum akan tetap bekerja untuk menegaskan dirinya. Misalnya soal kebohongan.
Kalau seseorang memperagakan kebohongan, tidak perlu orang lain menginvestigasi apakah ia benar-benar bohong atau tidak. Kalau  hanya berdasarkan beragam teknik untuk menutupi kebohongan, maka seluruh teknologi  canggih sudah ditemukan. Tapi akhirnya,betapapun canggihnya tidak diperlukan, karena selalu kalah oleh hukum yang bekerja.
Bangunan-bangunan yang dikurangi semennya, walau dilaporkan sudah memadai, namun pada akhirnya ia akan menjelaskan berapa jumlah semen yang sebenarnya. Beton yang dikurangi besaran besinya, ia akan menjelaskannya. Di Indonesia, ukuran beton itu ajaib,  bermacam-macam sebutannya, tidak ada ukuran baku. Ada ukuran 10 besar, 10 kecil, 10 tipis, atau 10 tebal. Macam-macam definisnya. Akhirnya yang dilaporkan ukuran 10, tapi realitasnya tidak tahu 10 mana yang dimaksud.
Sampai dibatas ini, kita menerima kenyataan itu sebagai sebuah kenyataan yang wajar. Baru ketika sebuah bangunan ambrol,  orang baru tertarik melacak bagaimana semennya, besinya dan lain-lain. Ambrolnya bangunan membuat semua tertarik untuk membuat yang makin detil bahwa yang digunakan adalah besi ukuran 10 yang tipis, atau besi ukuran 8. Kalau kenyataannya 8, kok dikatakan 10? Maka 8 itu akan menegaskan dirinya sendiri kelak di suatu hari. (am)

Sabtu, 14 Januari 2012

Pentingnya Visi & Misi Keluarga

Pentingnya Visi & Misi Keluarga

By  
Font size: Decrease font Enlarge font
Indonesia Strong From Home
Problematika terbesar dalam keluarga kebanyakan bukan berasal dari anak, melainkan dari orangtua. Masalah pada orangtua terutama berasal dari komunikasi antara orangtua (ibu dan bapak/suami istri).
Masih banyak orangtua yang berjuang dalam proses untuk melakukan kesamaan visi dan misi, rekonsiliasi, saling memahami dan memaklumi. Bahkan banyak juga pasangan (orangtua) yang belum sampai ke tahapan itu, sehingga cekcok sering terjadi.
Dalam hidup kita sejak lahir hingga mati, waktu yang paling paling lama adalah masa berkeluarga. Pada waktu terlama ini, kita punya kesempatan untuk menjadikan “keluargaku surgaku” atau sebaliknya.
Untuk itu orangtua harus punya visi dan misi yang jelas dalam membangun keluarga. Awal tahun merupakan momentum yang tepat bagi kita, untuk mengevaluasi kembali visi dan misi keluarga. Kita harus tahu apa yang kita impikan tentang keluarga, dan jangan lupa untuk selalu melibatkan Tuhan dalam mimpi-mimpi kita.
Perkawinan adalah sebuah perjalanan.  Untuk itu perlu persiapan yang baik. Sayangnya kebanyakan pasangan sebelum menikah hanya membicarakan perencanaan yang enak-enak saja. Sehingga setelah menikah baru tersadar dan kaget. Jika pasangan (suami istri) tidak bisa menyikapinya dengan baik, maka bisa berakibat fatal.
Pada tahun-tahun pertama perkawinan, 80% problem yang muncul adalah problem yang sederhana, tapi kalau tidak diselesaikan dengan baik akan menjadi problem yang besar, dan menjadi bom waktu yang siap meledak.
Jangan sampai, ditengah perjalanan perkawinan yang semakin jauh, kita masih saja berjuang untuk merekatkan hubungan dengan pasangan. Ibarat kapal yang sedang berlayar, harus ada kesamaan antara nahkoda dengan para penumpangnya. (am)