Jumat, 02 Maret 2012

Social Media: Building or Destroying Your Self

Social Media: Building or Destroying Your Self

By  
Font size: Decrease font Enlarge font
Smart Emotion
Social media saat ini sudah menjadi trend seperti facebook, twitter, linkedin. Namun trend ini perlu dicermati dan digunakan dengan bijaksana, agar memberi manfaat, bukannya malah merusak. Teknologi untuk manusia, bukan manusia untuk teknologi. Teknologi diciptakan untuk membantu manusia, bukan membuat manusia ketergantungan hingga memberi dampak buruk.

Sisi positif social media: connecting, networking, updating, marketing, entertaining, dan personalizing.
Sisi negatif social media: addiction (ketagihan), time wasting (habis waktu), privacy-intrusion (orang jadi tahu yang terjadi termasuk yang buruk.
Dampak yang perlu diwaspadai dari social media:
- Isolasi Sosial (autis): membuat orang yang jauh jadi dekat, tapi membuat yang dekat jadi jauh.
- Artificial Relationship: Punya banyak teman, sekaligus tidak punya teman. “Connect” kalau tidak mau tinggal di “disconnect”.
- Multiple Negative atau Multiple Positive: Berseteru dengan teman-kesalahpamahaman (multiple negative). Tambah network-tambah pengetahuan-tambah inspirasi (multiple positive).
Yang harus dilakukan:
1. Gunakan dengan disiplin waktu yang ketat.
2. Hanya untuk status yang positif.
3. Ingat bahwa image/citra diri Anda ada disitu.
Kaitan social media dengan kecerdasan emosi:
-Mengajar kita untuk networking, tapi tidak bisa menggantikan interaksi face to face
-Dari status seseorang kita bisa tahu apakah dia smart atau tidak
-Belajar empati dengan membaca status orang lain
-Consequential thinking: think before you write
-Memperluas pengaruh: bisa digunakan untuk hal-hal positif. (am)   

Are You a Responsible Person and Leader?

Are You a Responsible Person and Leader?

By  
Font size: Decrease font Enlarge font
Smart Emotion
Kesalahan/kelalaian yang dilakukan seseorang, orang lain yang menanggung akibatnya. Itulah yang sering terjadi. Contohnya adalah insiden Xenia maut di kawasan Tugu Tani Jakarta, yang menewaskan 9 orang, serta terbaliknya kapal Costa Concordia. Peristiwa tersebut memiliki satu benang merah, yaitu “tanggung jawab”.

Apakah Anda adalah orang yang memiliki rasa tanggungjawab? Dalam tulisannya di Harvard Business Review pada Januari 2010 yang berjudul “Responsible manager”, C.K. Prahalad menuturkan tentang 11 Kriteria Pribadi dan Pemimpin yang bertanggungjawab, yaitu:
 1. Bertanggungjawab disaat-saat kritis dan tidak menentu
 2. Bertanggungjawab bahwa dia sendiri mau belajar dan mengembangkan diri
 3. Bertanggungjawab dengan kesuksesan dan kegagalan
 4. Bertanggungjawab untuk mengembangkan orang lain
 5. Bertanggungjawab dengan pihak yang lebih minoritas dan lebih kurang beruntung
 6. Bertanggungjawab dengan keputusan yang bisa dipertanggungjawabkan
 7. Bertanggungjawab dengan hal-hal lain, termasuk dengan keluarga
 8. Bertanggungjawab dengan hasil maupun proses pencapaian
 9. Bertanggungjawab dengan posisi yang dipegang
10. Bertanggungjawab dengan apa yang dilakukan, bukan cuma sekedar apa yang dibicarakan
11. Bertanggungjawab dengan kekurangan dan kelemahan diri yang mungkin bisa membuat kekecauan  
Jangan lari dari tanggungjawab, karena ketika kita lari dari tangungjawab, hidup akan terus memberi pelajaran yang sama sampai kita terus belajar bertanggungjawab.
Tanggungjawab mudah dilakukan pada situasi yang normal/baik-baik saja. Tapi pada situasi sulit dan kritis, jarang orang mau bertanggungjawab. Kebanyakan orang hanya menyalahkan orang lain. Jarang sekali orang menunjukkan jari/kesalahan  ke arah dirinya sendiri.
Pentingnya rasa tanggungjawab pada pemimpin. Seorang pemimpin sering tidak menyadari ada kontribusi kekacauan yang berasal dari kekurangan dirinya. Pemimpin harus mau bercermin, cari kekurangan diri yang mengakibatkan terjadinya sebuah persoalan. Jangan hanya menyalahkan orang lain. Ingatlah, tanggungjawab itu mahal harganya! (am)

How To Be An Expert in Your Field?

How To Be An Expert in Your Field?

By  
Font size: Decrease font Enlarge font
Smart Emotion
Setiap orang, apapun pekerjaannya, bisa menjadi seorang ahli (expert). Apa yang harus diketahui dan dilakukan lebih dulu? Yang pertama harus dilakukan adalah: Lakukan inventory bagi diri kita untuk mengukur diri kita dengan teori SIAP.
Teori SIAP adalah:
S: Skill. Apa skill Anda, seberapa tinggi skill itu dikuasai?
I : Interest. Apakah Anda betul betul tertarik untuk itu, tertarik dibagian mananya?
A: Atitude. Bagaimana attitude kita akan bidang itu?
P: Pengalaman. Kemungkinan sukses akan lebih besar kalau punya pengalaman.
7 Rules How You Can Start to be an Expert:
1. SIAP: Skill, Interest, Attitude, Pengalaman.
2. Pilih Satu Bidang.
3. Buat keputusan.
4. Bangun obsesi.
5. Cari ahlinya.
6. Berlatih.
7. Mengumumkan kepada dunia
3 Prinsip Penting Menjadi Ahli:
1. Focus  pada apa yang kita kuasai, yg dibutuhkan pasar, yang mampu kita lakukan.
2. Bayar waktu untuk belajar, berlatih.
3. Berani investasi. Learn before you earn, invest before you harvest.
Anda pasti punya satu keahlian yang anda kuasai. Orang seringkali terlalu meremehkan pengetahuan yang mereka miliki, padahal banyak orang lain yang membutuhkannya. Kita bisa membantu orang lain dengan keahlian kita. (am)

My Boss is A Bastard

My Boss is A Bastard

By  
Font size: Decrease font Enlarge font
Smart Emotion
Banyak karyawan yang tidak puas dengan bossnya. Lalu apa yang mereka lakukan? Ada yang menyimpan di hati, ada yang curhat kepada teman, ada yang bergosip, buat status di FB, twitter atau BB.
Ciri-ciri Bastard Boss:
- Tidak pernah ada saat dibutuhkan
- Tukang monitor
- Membatasi dan melarang, tapi tidak punya solusi
- Tidak pernah tersenyum
- Hanya fokus pada dirinya sendiri

Ada 4 kategori Bastard Boss (dilihat dari sisi kestabilan dan konfrontasional):
1. Buaya (Si Politikus). Stabil-Tidak Konfrontasional: Kelihatan tenang tapi berbahaya, egois, tidak banyak memberi pendapat tapi dialah dalangnya.
2. Singa (Si Tukang Tembak). Stabil-Konfrontasional: Agresif, menyerang, berusaha membuat orang lain tunduk, dominan, ingin berkuasa.
3. Gajah (Si Roller Coaster). Tidak stabil-Konfrontasional: Tenang, tapi kalau marah berbahaya.
4. Meerkat (mirip Luwak). Tidak Stabil-Tidak Konfrontasional: Kita tidak pernah tahu apa yang dipikirkan dan tidak pernah muncul, kelihatan tidak berbahaya, tapi punya pintu terutup, bersembunyi, tidak mau mengambil keputusan, sibuk dengan diri sendiri.
  
Personal Survival Tips (Teori A-G):
A: Awareness. Kenali boss anda.
B: Behaviour. Lihat sikap dia, apakah senang dengan  perilaku anda. Harus berhati hati karena karir anda tergantung sama dia.
C: Consequencies. Pelajari dampaknya, kalau terjadi hal tertentu, bakal seperti apa jadinya.  
D: Desire. Maunya apa? Tetap bertahan, dan mengharapkan karir naik, atau apa. Pikirkan rencana apa yang akan dilakukan.
E: Engage, -Disengage. Pikirkan jangka panjangnya, apakah akan tetap terlibat dengan apa yang dikerjakan sekarang dan bertahan atau mundur
F: Find A Way. Ubah langkah berikutnya, bagaimana caranya berhubungan dengan dia.
G: Go For Your Plan. Kalau kelihatannya tidak akan lama bertahan, lakukan rencana selama masa itu. Tapi Jangan terlalu cepat menghakimi. Kita selalu bisa belajar sesuatu dari boss seperti itu. Mungkin dia kelihatannya keras, tegas dan tidak menyenangkan, tapi ada yang bisa diperoleh dari dia. Jadi jangan membenci boss.
Menyikapi Boss: 
Tipe Buaya: Hati hati, jangan terlalu percaya begitu saja (dia tricky) dan jaga hubungan, jangan terlalu dekat, buat dia bergantung pada kita.  
Tipe Singa: Jaga emosinya. Disaat darurat, dia bisa bersikap manis, bertolak belakang dengan kebiasaannya.
Tipe Gajah: Lihat kondisi emosinya, dia orang yg personal, memakai perasaan (hobi, keluarga), berikan sentuhan emosional yang dia sukai.
Tipe Meerkat: Perlu sedikit di push, minta waktu bicara, libatkan dia dalam meeting, dan sebagainya. (am)

Seberapa Mature Anda di Tempat Kerja?

Seberapa Mature Anda di Tempat Kerja?

By  
Font size: Decrease font Enlarge font
Smart Emotion
Sering terjadi, suasana kantor terasa berat bukan karena beban pekerjaan, tetapi karena orang-orang yang ada di dalam kantor tidak dewasa (mature). Semua orang yang ada di kantor, apakah itu bos, rekan kerja, atau karyawan, sering bersikap tidak dewasa.
Ada 7 konsep yang perlu dilakukan untuk mengetahui apakah kita, bos kita, atau rekan kerja kita,mature atau tidak.
1. Si Lemah Diri. Orang tipe ini tidak bisa membuat keputusuan, dan sangat bergantung pada orang lain, bahkan untuk hal-hal yang simpel dan privacy. Di kantor, sikap oran seperti ini bisa jadi masalah. Bagaimana dia bisa berkontribusi, kalau membuat keputusan untuk dirinya saja tidak bisa.
2. Si Pelit. Orang dengan tipe ini bukan hanya  pelit dalam hal materi, tapi juga  dalam sumber daya seperti ilmu dan sebagainya. Dia takut untuk memberi  kepada orang lain, dia punya mental kekurangan. Dia takut membagi ilmu kepada orang lain, karena takut orang lain akan lebih pintar dari dia.
3. Si Penghancur Diri. Orang dengan tipe ini merusak dirinya dan sekitarnya. Bisa dikatakan dia agak bermasalah secara emosi. Sikap dan kata-katanya suka kasar.
4. Si Tinggi Hati. Orang dengan tipe ini adalah orang yang sombong, tidak mau bergaul, tidak mau membantu sesama rekan kerja.
5. Si Serius. Orang dengan tipe ini tidak bisa fun. Selalu serius sehingga menimbulkan keengganan diantara rekan kerja.
6. Si Tukang Menyalahkan. Orang dengan tipe ini selalu merasa orang lain yang salah, sedangkan dirinya tidak pernah salah. Tidak ada yang benar di matanya. Ia juga suka mengkritik. Dia merasa dirinya selalu menjadi korban sehingga bisa menyalahkan  orang lain .
7. Si Keras Kepala. Orang dengan tipe ini selalu menolak pendapat orang lain. Semakin ditekan maka resistensinya akan semakin kuat.

Tips:
1. Lihat diri Anda ada pada tipe yang mana.
2. Belajarlah untuk menolak kecenderungan negatif dalam diri.
3. Berlatih untuk melakukan yang kebalikannya.

Salah satu dari tujuh sifat itu ada dalam diri Anda. Untuk itu kenalilah diri Anda sebelum menilai orang lain, agar Anda menjadi orang yang dewasa (mature). Jika dibiarkan sifat yang negatif akan makin membesar, menguasai diri Anda, dan akan merusak diri Anda. (am).

Membangun Brand Diri

Membangun Brand Diri

By  
Font size: Decrease font Enlarge font
Smart Emotion
Banyak orang menganggap tidak perlu untuk membangun brand diri. Padahal membangun brand diri sangat penting, untuk membangun image orang tentang diri kita. Hal ini diperlukan baik dalam kehidupan sosial, pekerjaan, maupun bisnis.
Membangun brand diri adalah bagian dari kecerdasan emosi. Setiap hari kita membangun persepsi orang tentang diri kita. Membangun brand diperlukan agar kita mendapat persepsi yang positif. Membangun brand diri jangan dilihat secara negatif, seperti jual diri atau narsis. Membangun brand diri adalah untuk menunjukkan “inilah aku dan kemampuanku”. Untuk itu membangun brand diri sangat terkait dengan kompetensi dan kredibilitas, juga IQ dan EQ. Namun membangun brand diri juga bisa dimulai dari hal yang sederhana, seperti cara berpakaian, cara berbicara, dan cara berkomunikasi. 

Ada orang yang kesannya sombong. Kesan itu tidak muncul begitu saja. Kesan itu diciptakan sehingga menimbulkan persepsi, dan itulah yang menjadi brand diri. Bayangkan kalau brand buruk melekat pada diri kita dan terlihat dalam lingkungan sosial atau bisnis. 

Membangun brand diri harus dilakukan dengan jujur, karena akan ada konsekuensinya. Brand yang Anda tampilkan harus sesuai dengan kepribadian dan kompetensi Anda.

Ada orang yang tidak punya kompetensi, tapi brand yang dikeluarkan besar. Ini bahaya, karena merupakan kepura-puraan yang pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri. Sebaliknya ada juga orang yang punya kompetensi tapi tidak punya brand. Ini bisa berasal dari sifat rendah hati. Padahal jika di-brand, dia akan menjadi “sesuatu”. (am)