Rabu, 20 April 2011

Sudahlah, Maafkan Saja.

Kita pasti akan menghindari makanan beracun masuk kedalam tubuh kita. Tapi anehnya, kita sering memasukan makanan beracun kedalam fikiran kita. Padahal inilah sumber penderitaan kita.
Kita sering menyimpan amarah. Kita marah karena dunia tidak berjalan seperti keinginan kita,  kita marah karena orang-orang disekitar kita tidak melakukan apa yang kita inginkan. Dan rasa marah itu kita pendam bertahun-tahun.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kejadian yang memancing emosi kita. Pengendara motor yang memaki, pengendara mobil yang menyalip, politisi yang mementingkan dirinya sendiri, dan sebagainya.
Penelitian menunjukkan, ketidakrelaan memberi maaf, akan berdampak besar terhadap tubuh seseorang. Hal itu akan menimbulkan ketegangan, mempengaruhi sirkulasi darah dan kekebalan tubuh, meningkatkan tekanan jantung, otak dan organ tubuh lainnya. Rasa marah yang terpendam  juga dapat menimbulkan pusing, sakit pada punggung, leher dan perut, kurang energi, tidak bisa tidur, dan tidak bahagia. Ingatlah musuh kita bukan orang yang membenci kita, tapi orang yang kita benci.
Untuk mencapai kebahagiaan, kita perlu merubah cara pandang.Sumber bahagia ada dalam diri kita, bukan dari luar diri kita. Jangan pusingkan perilaku orang lain, belajarlah memaafkan. Pahamilah bahwa orang melakukan kesalahan karena ia tidak tau. Untuk mencapai kebahagiaan, berhentilah menyalahkan orang lain. Karena kesempurnaan manusia terletak pada ketidaksempurnaannya. Tuhanlah yang Maha Sempurna.
Seorang bekas tahanan politik mengunjungi kawan satu sel nya. Ia bertanya, “Apakah kamu sudah melupakan orang-orang yang memenjarakanmu?” “Sudah” jawab temannya. Lalu ia melanjutkan, “Saya belum,saya masih membenci mereka”. Temannya berkata sambil tertawa, “Kalau begitu mereka masih memenjara dirimu”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar