L-Factor (Likeability Factor) adalah faktor yang membuat orang merasa nyaman, merasa senang berhubungan dengan kita. L-Factor yang baik mendukung karir Anda, sebaliknya L-Factor yang rendah akan ‘merampas’ karir Anda.
4 L-Factors: Keramahan, Koneksi, Kepekaan, Ketulusan
7 Tips Meningkatkan L-Factor:
1. Positif dan tersenyum.
2. Tidak melabel dan menghakimi.
3. Terbuka. Terhadap ide dan masukan orang.
4. Membangkitkan level kepercayaan orang.
5. Aman untuk mengungkapkan ketidaktahuan. Orang tidak merasa bodoh untuk bertanya kepada kita.
6. Keluar dari kepompong ego kita. Arahkan energi keluar
7. Menciptakan kesamaan dengan orang lain. Orang akan merasa nyaman dengan orang yang punya kesamaan dengan dirinya.
1. Positif dan tersenyum.
2. Tidak melabel dan menghakimi.
3. Terbuka. Terhadap ide dan masukan orang.
4. Membangkitkan level kepercayaan orang.
5. Aman untuk mengungkapkan ketidaktahuan. Orang tidak merasa bodoh untuk bertanya kepada kita.
6. Keluar dari kepompong ego kita. Arahkan energi keluar
7. Menciptakan kesamaan dengan orang lain. Orang akan merasa nyaman dengan orang yang punya kesamaan dengan dirinya.
Jawaban Pertanyaan:
- Bagaimana menyikapi teman dekat yang menjadi atasan? Jagalah respek terhadap dia dan tunjukkan bahwa Anda mendukung dia. “Never outshine the master!” (jangan berusaha melebihi dia, apalagi kalau dia pimpinan kita). Dia akan lebih membantu kita.
- Bagaimana pengaruh pengalaman dan agama terhadap L-Factor? Dengan pendalaman religius, ketulusan kita akan lebih terpancar. Hubungan EQ dan SQ sangat erat. Bahkan sebaiknya dulukan SQ.
- Bagaimana dengan orang yang iri, dengki dan dendam? Iri adalah sumber kejahatan dan dosa. Alihkan energi iri dan dengki dengan meningkatkan kemampuan, prestasi dan karir kita untuk menjadi lebih hebat dari dia. Bukan dengan menjegal atau menggosipkan dia. Ronald Reagan berpesan:”You can
accomplish much if you don’t care who gets the credit” ( Anda akan mencapai banyak hal kalau kamu tidak peduli siapa yg mendapat pujian).
- Bagaimana menyikapi orang yang tidak suka dengan kita? Sudah umum kalau tidak semua orang suka akan sesuatu atau seseorang. Kita bisa stres kalau mengharapkan semua orang ‘harus’ suka kepada kita. Namun begitu, jangan pernah berhenti untuk menaikkan L-Factor kita. Selama hati kita damai, biarkan
saja kalau ada orang yang tidak suka, jangan pernah berputus asa. Pada akhirnya sikap kita yang baik yang akan mengubah dia.
- Bagaimana pengaruh pengalaman dan agama terhadap L-Factor? Dengan pendalaman religius, ketulusan kita akan lebih terpancar. Hubungan EQ dan SQ sangat erat. Bahkan sebaiknya dulukan SQ.
- Bagaimana dengan orang yang iri, dengki dan dendam? Iri adalah sumber kejahatan dan dosa. Alihkan energi iri dan dengki dengan meningkatkan kemampuan, prestasi dan karir kita untuk menjadi lebih hebat dari dia. Bukan dengan menjegal atau menggosipkan dia. Ronald Reagan berpesan:”You can
accomplish much if you don’t care who gets the credit” ( Anda akan mencapai banyak hal kalau kamu tidak peduli siapa yg mendapat pujian).
- Bagaimana menyikapi orang yang tidak suka dengan kita? Sudah umum kalau tidak semua orang suka akan sesuatu atau seseorang. Kita bisa stres kalau mengharapkan semua orang ‘harus’ suka kepada kita. Namun begitu, jangan pernah berhenti untuk menaikkan L-Factor kita. Selama hati kita damai, biarkan
saja kalau ada orang yang tidak suka, jangan pernah berputus asa. Pada akhirnya sikap kita yang baik yang akan mengubah dia.
Mengelola Emosi selagi turun (down) ada 2:
1. Dari diri sendiri, dari pikiran kita. Ini sangat ampuh disaat down. Pikirkan hal hal yang positif, balikkan situasi menjadi positif. Misalnya: Selagi macet, daripada kesal, toh masih macet juga, lebih baik menikmati macet dengan melihat hal hal disekitar kita.
2. Dari luar diri (orang lain). Pinjam mesin orang lain. Memperoleh masukan dan motivasi dari orang lain. Kalau kita punya L-Factor yang tinggi, pasti banyak yang membantu kita.(Anthony Dio Martin)
1. Dari diri sendiri, dari pikiran kita. Ini sangat ampuh disaat down. Pikirkan hal hal yang positif, balikkan situasi menjadi positif. Misalnya: Selagi macet, daripada kesal, toh masih macet juga, lebih baik menikmati macet dengan melihat hal hal disekitar kita.
2. Dari luar diri (orang lain). Pinjam mesin orang lain. Memperoleh masukan dan motivasi dari orang lain. Kalau kita punya L-Factor yang tinggi, pasti banyak yang membantu kita.(Anthony Dio Martin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar